<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rembug Pasutri: Menggapai Keluarga Samara &#187; Pendidikan Anak</title>
	<atom:link href="http://abiyar.com/category/pendidikan-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiyar.com</link>
	<description>Rembug Pasutri: Menggapai Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Feb 2010 10:27:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dongeng dan Cerita untuk Anak? (2)</title>
		<link>http://abiyar.com/dongeng-dan-cerita-untuk-anak-2/</link>
		<comments>http://abiyar.com/dongeng-dan-cerita-untuk-anak-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 02:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu hanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng dan cerita untuk anak]]></category>
		<category><![CDATA[kisah islami]]></category>
		<category><![CDATA[panduan memilih cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiyar.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[HADIRKAN KISAH-KISAH TELADAN
Setelah mengetahui kandungan dan kemungkinan munculnya dampat negatif dari kisah-kisah fiktif tersebut, maka menjadi kewajiban kita untuk mengarahkan anak-anak agar menjauhi kisah-kisah fiktif dan penuh kedustaan tersebut. Kemudian mereka didekatkan dengan kisah-kisah teladan penuh hikmah. Misalnya kisah tentang para nabi Allah. Kisah-kisah teladan inilah yang semestinya mewarnai kehidupan anak-anak kita.
&#8220;Mereka itulah orang-orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>HADIRKAN KISAH-KISAH TELADAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengetahui kandungan dan kemungkinan munculnya dampat negatif dari kisah-kisah fiktif tersebut, maka menjadi kewajiban kita untuk mengarahkan anak-anak agar menjauhi kisah-kisah fiktif dan penuh kedustaan tersebut. Kemudian mereka didekatkan dengan kisah-kisah teladan penuh hikmah. Misalnya kisah tentang para nabi Allah. Kisah-kisah teladan inilah yang semestinya mewarnai kehidupan anak-anak kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka&#8221;.</em> [Al-An'am/6:90].</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti halnya kisah Nabi Yunus Alaihissalam ketika berada di dalam perut ikan paus, Nabi Sulaiman Alaihissalam dengan burung Hud-Hud, juga kisah Nabi Yusuf Alaihissalam dengan saudara-saudaranya. Demikian pula kisah Nabi Musa Alaihissalam dengan Khidir, dan kisah-kisah lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga anak harus didekatkan dengan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dari sirah beliau ini, kita dapat memetik banyak pelajaran, sejak beliau masih di dalam kandungan, kemudian bapak beliau meninggal, sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim, dan seterusnya. Banyak pula peristiwa-peristiwa besar yang beliau lewati, sehingga membawa perubahan besar bagi umat manusia. Begitu juga dengan kisah-kisah yang beliau tuturkan dalam hadits-hadist yang shahih. Sebab Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah&#8221; </em>[Al-Ahzab/33:21].</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-204"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga kita bisa menuturkan kepada anak-anak dengan kisah-kisah para sahabat Nabi, sebagaimana yang dipaparkan oleh seorang penyair:</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kalian tidak bisa menjadi seperti mereka, (maka) contohlah mereka!</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sesungguhnya, meneladani orang-orang mulia, merupakan keutamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh, kisah yang disebutkan dalam sirah &#8216;Umar bin &#8216;Abdil-&#8217;Azis (Juz 1, hlm 23). Yaitu kisah Amirul-Mukminin &#8216;Umar bin Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu dengan seorang wanita. Tatkala Khalifah &#8216;Umar bin Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu memegang tampuk pemerintahan, beliau melarang mencampur susu dengan air.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal kisah, pada suatu malam Khalifah &#8216;Umar bin Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu pergi ke daerah pinggiran kota Madinah. Untuk istirahat sejenak, bersandarlah beliau di tembok salah satu rumah. Terdengarlah oleh beliau suara seorang perempuan yang memerintahkan anak perempuannya untuk mencampur susu dengan air. Tetapi anak perempuan yang diperintahkan tersebut menolak dan berkata: &#8220;Bagaimana aku hendak mencampurkannya, sedangkan Khalifah &#8216;Umar melarangnya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar jawaban anak perempuannya, maka sang ibu menimpalinya: &#8220;Umar tidak akan mengetahui.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar ucapan tersebut, maka anaknya menjawab lagi: &#8220;Kalaupun &#8216;Umar tidak mengetahui, tetapi Rabb-nya pasti mengetahui. Aku tidak akan pernah mau melakukannya. Dia telah melarangnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata anak wanita tersebut telah menghunjam ke dalam hati &#8216;Umar. Sehingga pada pagi harinya, anaknya yang bernama &#8216;Ashim, beliau panggil untuk pergi ke rumah wanita tersebut. Diceritakanlah ciri-ciri anak tersebut dan tempat tinggalnya, dan beliau berkata: &#8220;Pergilah, wahai anakku dan nikahilah anak tersebut,&#8221; maka menikahlah &#8216;Ashim dengan wanita tersebut, dan lahirlah seorang anak perempuan, yang darinya kelak akan lahir Khalifah &#8216;Umar bin &#8216;Abdil &#8216;Azis.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut ialah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">- Kesungguhan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">- Selalu menanamkan sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla, baik ketika sendiri atau ketika bersama orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">- Tidak meresa segan untuk memberikan nasihat kepada orang tua.</p>
<p style="text-align: justify;">- Memilihkan suami yang shalih atau istri yang shalihah bagi anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penggalan kisah ini hanya sekedar contoh, bagaimana cara kita mengambil pelajaran berharga dari sebuah kisah, kemudian menanamkannya pada anak-anak kita, dan masih banyak contoh lainnya, baik di dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits yang bisa digali dan jadikan sebagai kisah-kisah yang layak dituturkan kepada anak-anak kita.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>PELAJARAN DAN KEUTAMAAN KISAH-KISAH TELADAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah-kisah teladan mempunyai keistimewaan yang sangat berbeda dengan kisah-kisah fiktif maupun mitos, yaitu dari sisi kebenarannya, dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Di dalamnya juga terkandung tujuan-tujuan mulia.</p>
<p style="text-align: justify;">1). Kisah mampu memberikan peran yang penting dalam menarik perhatian, mengembangkan pikiran dan akal anak. Karena dengan mendengarkannya, dapat mendatangkan kesenangan dan kegembiraan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terbiasa membawakan kisah di hadapan para sahabat, baik yang muda maupun yang tua. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap kisah yang dituturkan beliau, berupa berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau, agar bisa mengambil pelajaran darinya, baik oleh orang-orang sekarang maupun sesudahnya hingga hari Kiamat</p>
<p style="text-align: justify;">2). Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan kepercayaan anak-anak terhadap sejarah tokoh yang menjadi tauladan mereka. Sehingga akan menambah semangat untuk maju, serta membangkitkan semangat ke-islaman mereka agar lebih mendalam dan menggelora.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">3). Kisah-kisah para ulama yang mengamalkan ilmunya, demikian juga kisah-kisah orang-orang shalih merupakan sarana terbaik untuk menanamkan berbagai sifat utama pada diri anak-anak, serta mendorongnya untuk siap mengemban berbagai kesulitan untuk meraih tujuan mulia dan luhur.</p>
<p style="text-align: justify;">4). Kisah-kisah teladan juga akan membangkitkan anak-anak untuk mengambil teladan dari orang-orang yang mempunyai tekad kuat dan mau berkorban, sehingga ia akan terus naik menuju derajat yang tinggi dan terhormat.</p>
<p style="text-align: justify;">5). Tujuan utama menuturkan kisah-kisah teladan tersebut, yaitu untuk mendidik dan membersihkan jiwa, bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang atau menikmati kisah-kisah itu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itulah, cerita juga memiliki peran sangat penting dalam mencapai tujuan-tujuan mulia tersebut. Sehingga Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga banyak memaparkan kisah orang-orang terdahulu kepada para sahabatnya, untuk kemudian diambil pelajaran dan peringatan darinya. Kebiasaan beliau n dalam berkisah, beliau mendahului dengan uangkapan “telah terjadi pada orang-orang sebelum kalian&#8221;, kemudian beliau n menuturkan kisah tersebut, dan para sahabat mendengarkannya dengan seksama sampai selesai. Dalam hal ini, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menerapkan metode Ilahi, sebagaimana firman-Nya Azza wa Jalla.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir&#8221;.</em> [Al-A’raaf/7:179].</p>
<p style="text-align: justify;">Para sahabat pun mengambil pelajaran pada setiap kisah yang dituturkan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Mereka mendapatkan manfaat dari sisi pendidikan dan akhlak, sebagai bekal yang berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah semestinya seorang anak dibiasakan hidup dalam nuansa kisah-kisah yang pernah dibawakan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sirah Nabi dan juga kisah-kisah dalam Al-Qur`an, agar ia terbiasa hidup dalam nuasa iman dan suri teladan yang utama, sehingga keimanannya semakin hari semakin kokoh. Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</p>
<p style="text-align: justify;">________</p>
<p style="text-align: justify;">Footnote</p>
<p style="text-align: justify;">[1]. Kaifa Nurabbi Auladana wa Mâ Huwa Wajib Al-Aba-i Wal-Abna’, hlm. 2.</p>
<p style="text-align: justify;">[2]. Lihat kitab At-Tarbiyyah bil-Qishashi, hlm. 5, dengan beberapa perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">[3]. Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah li-Thifli, hlm. 339.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">di-posting ulang dari www.almanhaj.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiyar.com/dongeng-dan-cerita-untuk-anak-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng dan Cerita untuk Anak? (1)</title>
		<link>http://abiyar.com/dongeng-dan-cerita-untuk-anak/</link>
		<comments>http://abiyar.com/dongeng-dan-cerita-untuk-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 02:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu hanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng dan cerita untuk anak]]></category>
		<category><![CDATA[kisah islami]]></category>
		<category><![CDATA[panduan memilih cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiyar.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu metode pendidikan yang sering digunanakan para orang tua adalah melalui dongeng atau cerita. Melalui cerita-cerita tersebut, kita berusaha memasukkan nilai-nilai keteladanan bagi mereka. Namun ternyata, tidak semua cerita-cerita yang kita anggap baik, yang kita sampaikan kepada anak itu “benar-benar baik” dalam kaca mata syariat. Lalu bagaimanakah kaidah-kaidah dalam berkisah kepada anak? Berikut ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Salah satu metode pendidikan yang sering digunanakan para orang tua adalah melalui dongeng atau cerita. Melalui cerita-cerita tersebut, kita berusaha memasukkan nilai-nilai keteladanan bagi mereka. Namun ternyata, tidak semua cerita-cerita yang kita anggap baik, yang kita sampaikan kepada anak itu “benar-benar baik” dalam kaca mata syariat. Lalu bagaimanakah kaidah-kaidah dalam berkisah kepada anak? Berikut ini penjelasan yang disampaikan oleh Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nurhuda terkait permasalahan tersebut yang kami anggap cukup bermanfaat bagi kita para orang tua, dan para pendidik baik di sekolah atau di TPA.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>MEMILIHKAN KISAH YANG MENDIDIK</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah, keterkaiatannya dengan pendidikan anak, memiliki peran yang sangat penting, lantaran kisah juga merupakan salah satu metode pengajaran. Dalam Al-Qur`an, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah mengajarkan berbagai kisah dari umat-umat terdahulu. Sehingga secara langsung bisa dipahami, bahwa Islam memberikan perhatian yang besar terhadap masalah ini, yaitu dengan menyebutkan kisah-kisah yang mendidik dan bermanfaat sebagai metode dalam menyampaikan pengajaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah mencontohkan kisah tentang Luqman Al-Hakim yang memberi wasiat kepada anaknya dengan wasiat yang sangat penting dan berharga.[1]</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-199"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian semestinya yang diterapkan dalam mendidik anak, ialah dengan mendasarkan kepada wahyu, yaitu Al-Kitab dan juga As-Sunnah. Karena dalam dua sumber tersebut terdapat kebaikan, kesempurnaan, dan tepat bagi manusia. Bukankah jika </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiyar.com/dongeng-dan-cerita-untuk-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajari Anak Kita dengan Adab-adab Islami (2)</title>
		<link>http://abiyar.com/ajari-anak-kita-dengan-adab-adab-islami-2/</link>
		<comments>http://abiyar.com/ajari-anak-kita-dengan-adab-adab-islami-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 16:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu hanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[adab ketika bersin]]></category>
		<category><![CDATA[adab ketika menguap]]></category>
		<category><![CDATA[adab tidur]]></category>
		<category><![CDATA[Adab-adab Islami]]></category>
		<category><![CDATA[doa bangun tidur]]></category>
		<category><![CDATA[doa ketika bersin]]></category>
		<category><![CDATA[doa sebelum tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiyar.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Adab ketika Bersin
Rasulullah bersabda, “Bila salah seorang dari kalian bersin, maka ucapkanlah alhamdulillah, kemudian yang mendengarnya hendaknya mengucapkan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Bila dia mengucapkan yarhamukallah, ucapkanlah yahdikumullahu wayushlihu baalakum (semoga Allah menunjuki dan meluruskan keadaanmu). (Riwayat Bukhari).
Ajarilah anak bagaimana adab bersin sebagaimana telah dituntunkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Perintahkan kepada meraka untuk mengucapkan alhamdulillah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Adab ketika Bersin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda, <em>“Bila salah seorang dari kalian bersin, maka ucapkanlah alhamdulillah, kemudian yang mendengarnya hendaknya mengucapkan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Bila dia mengucapkan yarhamukallah, ucapkanlah yahdikumullahu wayushlihu baalakum (semoga Allah menunjuki dan meluruskan keadaanmu). </em>(Riwayat Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Ajarilah anak bagaimana adab bersin sebagaimana telah dituntunkan Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam</em>. Perintahkan kepada meraka untuk mengucapkan <em>alhamdulillah</em> jika bersin. Dan bila dia mendengar orang yang mengucapkan hamdallah ketika bersin, maka ajarkan untuk mendoakan orang tersebut dengan doa <em>yarhamukallah. </em>Ajarkan pula untuk tidak mengucapakan doa tersebut  kepada orang yang tidak mengucapakan hamdallah ketika bersin, karena Rasulullah bersabda, <em>“Jika salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah, maka doakanlah. Tetapi jika dia tidak memuji Allah, maka jangan kamu doakan.” </em>(Riwayat Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-191"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Adab saat Menguap</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika anak menguap, ajarkanlah padanya untuk menutup mulutnya. Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, <em>“Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap. Bila salah seorang bersin alau memuji Allah, maka wajib bagi seotiap orang yang mendengarnya untuk mengucapkan yarhamukallah. Adapun menguap sesungguhnya dari setan. Bila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia tahan semampunya. Sesungguhnya setan tertawa melihat orang yang menguap.” </em>(Riwayat Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Adab Tidur</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ajarkan pada anak untuk berwudhu dan berdoa sebelum tidur. Adapun doa sebelum tidur yaitu: <em>Bismika allahuma amuutu wa ahyaa</em> yang artinya<em>: “Dengan nama Allah aku mati dan hidup. </em>Selanjutnya, biasakan agar anak suka tidur dengan berbaring pada sisi kanan, karena begitulah yang dianjurkan Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam. </em>Lebih baik lagi bila sebelum tidur anak dibiasakan untuk berdzikir, misalnya dengan membaca ayat kursi atau surat Al-Ikhlash, An-Naas, dan Al-Falaq masing-masing tiga kali untuk membentengi diri dari godaan setan saat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasakan anak agar tidak tidur terlalu malam, sehingga bisa bangun pagi dan tidak terlambat shalat subuh. Ketika bangun tidur, ajarkan anak untuk membaca doa: <em>Alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaihinnusyuur </em>yang artinya,<em> “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah sebelumnya mematikan kami dan hanya kepada-Nyalah kami akan dibangkitkan.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ditulis ulang dari Majalah Nikah Vol. 5 No. 9 Desember 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiyar.com/ajari-anak-kita-dengan-adab-adab-islami-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajari Anak Kita dengan Adab-adab Islami (1)</title>
		<link>http://abiyar.com/ajari-anak-kita-dengan-adab-adab-islami-1/</link>
		<comments>http://abiyar.com/ajari-anak-kita-dengan-adab-adab-islami-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 16:38:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu hanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[adab bertemu]]></category>
		<category><![CDATA[adab makan]]></category>
		<category><![CDATA[Adab-adab Islami]]></category>
		<category><![CDATA[doa makan]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajari anak adab islami]]></category>
		<category><![CDATA[salam islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiyar.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Setiap muslim harus berusaha membiasakan anak-anaknya mengamalkan adab-adab Islami sejak dini. Diantaranya adab ketika bertemu, adab makan dan minum, adab ketika bersin dan menguap, serta adab tidur yang sesuai sunnah. Bila sejak kecil anak-anak telah dibiasakan dengan adab-adab Islami, Insyaallah itu akan membekas dalam dirinya dan kebiasaan itu akan dibawa hingga dewasa.
Adab Ketika Bertemu
Ajarilah anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setiap muslim harus berusaha membiasakan anak-anaknya mengamalkan adab-adab Islami sejak dini. Diantaranya adab ketika bertemu, adab makan dan minum, adab ketika bersin dan menguap, serta adab tidur yang sesuai sunnah. Bila sejak kecil anak-anak telah dibiasakan dengan adab-adab Islami, Insyaallah itu akan membekas dalam dirinya dan kebiasaan itu akan dibawa hingga dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Adab Ketika Bertemu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ajarilah anak untuk mengucapkan salam saat bertemu dengan teman atau saudaranya sesama muslim, juga ketika masuk rumah atau bertamu (ed-yakni dengan ucapan <em>Assalamu’alaikum)</em>.<em> </em>Menyebarkan salam, selain mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah, juga menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang. Rasulullah bersabda: <em>“Maukah kutunjukkan suatu perkara yang jika kalian mengerjakannya akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian. “ </em>(Riwayat Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-187"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ajarkan pula padanya, jika Rasulullah menganjurkan agar yang lebih muda lebih dahulu mengucapkan salam kepada yang lebih tua.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan lupa pula mengajari anak untuk selalu menjawab salam, karena Allah berfirman, “<em> Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” </em>(An-Nisaa’: 86)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Adab Makan dan Minum</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Anak muslim juga harus diajari adab makan dan minum sejak dini. Beberapa hal yang harus diajarkan antara lain:</p>
<p>1.  Memulai dengan <em>bismilah, </em>menggunakan tangan kanan, dan mengambil makanan yang terdekat</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana sabda Rasulullah saat menasihati Umar bin Abi Salamah, “<em>Hai anak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kanan, dan ambillah yang terdekat.” </em>(Riwayat Bukhari dan Muslim). Jelaskan pada anak, jika makan tanpa dimulai dengan <em>bismillah, </em>maka setan juga ikut makan bersama kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelaskan juga bahwa anak shalih harus makan dengan tangan kanannnya agar tidak menyerupai setan yang makan dengan tangan kirinya. Rasululllah bersabda, “<em>Janganlah salah seorang dari kalian makan dan  minum dengan tangan kirinya, karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” </em>(Riwayat Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Bila lupa membaca <em>bismillah</em> di awal makan, hendaknya membaca: “<em>bismillahi awwalahu wa akhiruhu” </em>yang artinya, <em>“Dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya.”</em></p>
<p>2.  Jangan mencela makanan</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang ada anak yang suka mencela makanan jika tidak menarik hatinya. Anak seperti itu harus dinasihati, misalnya dengan kalimat: “Nak, jangan mencela makanan. Jika engkau suka, makanlah. Jika tidak, tinggalkanlah, lain kali ibu buatkan yang engkau suka. Bersyukurlah Allah sudah memberi kita rizki berupa makanan ini. Anak shalih tidak boleh mencela makanan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, ingatkan anak tentang hadist dalam Shahihain dari Abu Hurairah yang berkata, <em>“Rasulullah tidak pernah mencela makanan sama sekali. Bila beliau suka, maka beliau memakannya, tetapi bila tidak suka, maka beliau tinggalkan.”</em> (Riwayat Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">3.  Bila makanan terjatuh, ambillah dan hilangkan kotorannya</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda, <em>“Bila jatuh makanan salah seorang dari kalian, maka hendaknya dia mengambilnya lalu menghilangkan kotoran yang menempel  padanya, lalu memakannya. Janganlah dia meninggalkan makanan itu untuk setan, dan jangan pula dia mengusap tangannya dengan sapu tangan sebelum dia menjilati jemarinya, karena dia tidak tahu di bagian makanan yang mana berkah berada.” </em>(Riwayat Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">4.  Bila sudah selesai makan ucapkan <em>alhamdulillah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">5.  Apabila minum jangan sambil bernafas</p>
<p style="text-align: justify;">Saat minum, kadang ada anak yang mengeluarkan nafas dari hidung dan mulut di dalam gelas. Perbuatan ini hendaknya dilarang. Rasulullah bersabda, <em>“Bila salah seorang dari kalian minum, maka jangan bernafas di dalam gelas.” </em>(Riwayat Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">6.  Jangan makan dan minum terlalu banayak</p>
<p style="text-align: justify;">Ajarilah anak untuk makan sekedarnya saja, karena Rasulullah bersabda, <em>“Tidaklah anak Adam memenuhi sebuah bejana yang lebih jelek dari perutnya sendiri. Sudah cukup baginya jika dia makan yang dapat menegakkan tulang sulbinya. Tetapi bila tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafas.” </em>(Riwayat Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa adab makan dan minum yang harus dimengerti anak di antaranya mencuci tangan sebelum makan; makan dan minum sambil duduk; jangan meniup makanan yang panas; dan minum sedikit demi sedikit, tidak minum sekali telan.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiyar.com/ajari-anak-kita-dengan-adab-adab-islami-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendoakan Anak ketika Masih dalam Sulbi Ayah</title>
		<link>http://abiyar.com/mendoakan-anak-ketika-masih-dalam-sulbi-ayah/</link>
		<comments>http://abiyar.com/mendoakan-anak-ketika-masih-dalam-sulbi-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 17:08:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu hanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[doa sebelum jima']]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak di dalam islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiyar.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan anak di dalam Islam bahkan telah dimulai semenjak jauh hari sebelum mereka dilahirkan. Sunnah nabawiyah yang mulia telah mengajarkan kita untuk berdoa terhadap kebaikan mereka ketika mereka masih berada di dalam sulbi ayah-ayah mereka.
Ketika kaum musyrikin penduduk Thaif menolak mentah-mentah da’wah Nabi yang menyeru mereka masuk Islam, mengintimidasi beliau, serta melempari beliau dengan batu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-132" title="benih-tumbuh" src="http://abiyar.com/wp-content/uploads/2009/11/benih-tumbuh2.jpg" alt="benih-tumbuh" width="171" height="113" />Pendidikan anak di dalam Islam bahkan telah dimulai semenjak jauh hari sebelum mereka dilahirkan. Sunnah nabawiyah yang mulia telah mengajarkan kita untuk berdoa terhadap kebaikan mereka ketika mereka masih berada di dalam sulbi ayah-ayah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kaum musyrikin penduduk Thaif menolak mentah-mentah da’wah Nabi yang menyeru mereka masuk Islam, mengintimidasi beliau, serta melempari beliau dengan batu, malaikat penjaga bukit menawarkan kepada beliau untuk menutupkan dua buah bukit di Makah kepada mereka. Menanggapi tawaran itu, Nabi yang welas asih dan penuh kasih sayang itu mengatakan:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Saya berharap semoga Allah mengeluarkan dari sulbi mereka orang (anak) yang menyembah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. (HR. Bukhari: 2992, dan Muslim: 3352)</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-123"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dan Allah merealisasikan harapan Nabi dengan masuknya anak-anak meraka ke dalam Islam.<br />
Demikian pula Nabi Muhammad, beliau membimbing kaum muslimin kepada sesuatu yang mendatangkan kemaslahatan anak di masa mendatang. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Apabila seseorang di antara kamu hendak mengumpuli istrinya (bersetubuh), ia membaca doa, “Bismillahi, allahumma jannibnasy syaithan wa jannibisy syaithana maa razaqtana” (dengan nama Allah , ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan syaithan dan jauhkanlah syaithan dari anak yang Engkau anugerahkan kepada kami), lalu lahir anak dari hubungan tadi, maka anak tersebut tidak akan diganggu syaithan untuk selama-lamanya (HR. Bukhari: 141, 3271, 5165, 6388 dan Muslim: 1434)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadist ini merupakan arahan agar permulaan jima’ (bersenggama) itu berdoa kepada Allah. Apabila asma Allah yang disebutkan pada permulaan jima’, berarti hubungan suami-istri tadi dibangun atas pondasi ketakwaan. Dengan demikian, anak yang dihasilkan pun tidak akan diganggu syaithan dengan izin Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mau menikah, kita diperintahkan Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung agar memilih calon suami yang shalih dan calon istri yang shalihah. Hal ini dimaksudkan agar mereka kelak mampu mencetak dan mendidik generasi yang baik. Dalam hal ini Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. (QS. An Nuur: 32).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Nabi bersabda dalam memberikan pengertian ayat ini,</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Pilihkanlah (tempat yang baik) untuk spermamu; dan nikahlah kalian dengan wanita sekufu dan nikahkanlah (perempuan-perempuan) itu dengan mereka. (HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Majah, Daruquthni, Dhiyauddin al-Maqdisi dan Ibnu Abi Syaibah. Hadist ini dihasankan oleh Albani, rahimahullah)</p>
<p>Ditulis ulang dari Tumbuh di Bawah Naungan Illahi oleh Jamal Abdul Rahman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiyar.com/mendoakan-anak-ketika-masih-dalam-sulbi-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
