<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rembug Pasutri: Menggapai Keluarga Samara &#187; Rumah Impian</title>
	<atom:link href="http://abiyar.com/category/rumah-impian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiyar.com</link>
	<description>Rembug Pasutri: Menggapai Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Feb 2010 10:27:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tips Membeli Tanah: Teliti Sebelum Membeli</title>
		<link>http://abiyar.com/teliti-sebelum-membeli/</link>
		<comments>http://abiyar.com/teliti-sebelum-membeli/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu hanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Impian]]></category>
		<category><![CDATA[kavling tanah]]></category>
		<category><![CDATA[penipuan]]></category>
		<category><![CDATA[teliti sebelum membeli]]></category>
		<category><![CDATA[tips membeli tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiyar.wordpress.com/2006/12/26/teliti-sebelum-membeli/</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira sebulan yang lalu, seorang kawan, sebut saja Mas A, memperoleh informasi penawaran kavling tanah di daerah Jatimakmur, Pondokgede, dan kemudian meneruskannya kepada saya. Mas A ini kawan saya sesama kontraktor(penghuni kontrakan), yang kami ini berduit cekak, berkeliling ke pelosok-pelosok  Jabotebek, mencari kavlingan atau perumahan murah. Ajakan Mas A saya sambut antusias. Setelah beberapa kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kira-kira sebulan yang lalu, seorang kawan, sebut saja Mas A, memperoleh informasi penawaran kavling tanah di daerah Jatimakmur, Pondokgede, dan kemudian meneruskannya kepada saya. Mas A ini kawan saya sesama kontraktor(penghuni kontrakan), yang kami ini berduit cekak, berkeliling ke pelosok-pelosok  Jabotebek, mencari kavlingan atau perumahan murah. Ajakan Mas A saya sambut antusias. Setelah beberapa kali hunting bersama, daerah Jatimakmur adalah daerah yang paling dekat dengan tempat kerja kami, kira-kira sekitar 25 km. Dari pasar Pondokgede, hanya sekitar 3 km ke arah tol Jatiasih. Harga yang ditawarkanpun cukup murah, hanya Rp 225 ribu/meter. Itupun masih bisa dicicil sampai 4 tahun. Penawaran yang cukup menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika melihat langsung ke lokasinya, saya terkesan. Daerah yang aman dari banjir, bukan bekas persawahan, lahan yang siap bangun, dekat kompleks perumahan, akses jalan, dan jaminan bahwa tanah tersebut bebas sengketa. Terlebih pula hampir semua lahan kavling tersebut telah terjual, membuat semakin yakin untuk membeli. Kami merencanakan untuk mengambil masing-masing 150 m². Dengan total biaya hampir 35 juta dan waktu pelunasan sampai 4 tahun saya anggap tidak terlalu memberatkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-10"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dua minggu yang lalu, kami merencanakan untuk datang ke pengembang kavling tersebut untuk pembicaraan lebih lanjut. Ketika survei lokasi minggu sebelumnya, kami hanya bertemu penunggu kavling. Qadarullah saya tidak bisa datang, maka saya nitip diwakili Mas A. Pada pertemuan itu, disepakati untuk pembayaran uang muka sebesar 5 juta dan diserahkan minggu depannya. Mas A sempat memberikan beberapa ratus ribu sebagai tanda jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu lalu, sebagaimana kesepakatan sebelumnya, berangkat dari kost dengan hati riang, penuh harapan bahwa akhirnya mendapat tempat untuk membangun gubug <img src='http://abiyar.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Sempat menunggu Mas A setengah jam lebih di tempat janjian ketemu. Ternyata Mas A ini mengajak seorang teman, sebut saja Mas A2 yang juga tertarik ikut mengambil kavlingan. Kami bertiga mampir dulu ke lokasi kavlingan sebelum ke tempat tuan tanah itu. Menemani Mas A2 melihat tempatnya. Dan tampaknya Mas A2 juga berminat. Nah, pada waktu itu kebetulan Mas A menyempatkan diri berkunjung ke &#8216;calon tetangga&#8217; mencari informasi tambahan tentang kondisi disana. Dan tak disangka, lha kok kami malah disarankan untuk membatalkan niatan membeli kavlingan itu. Menurutnya tanah yang dijual oleh tuan tanah itu bukan milik si tuan ini, tapi tanah milik Yayasan TMII ! Ketika kemudian kami meminta informasi lebih jelas ke Ketua RW setempat kami memperoleh jawaban yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sama sekali kami tidak menyangka kalau masalahnya jadi seperti ini. Nyaris saja kami kena tipu. Dengan status tanah yang seperti ini tentu saja kami tidak akan pernah memperoleh dokumen kepemilikan tanah yang sah. Artinya statusnya sama saja dengan penghuni liar atau penyerobot tanah. Masih menurut bapak &#8216;calon tetangga&#8217;, yang tertipu masalah tanah itu sudah banyak. Bahkan sampai rumahnya sudah selesai dibangun. Beberapa diantara mereka akhirnya menjual murah rumahnya. Alhamdulillah kok ya kami masih diberi perlindungan. Punya tabungan yang ndak seberapa banyak itu hampir saja disikat orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dari itu jika sampeyan hendak membeli rumah atau tanah berhati-hatilah. Jangan lupa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari &#8216;calon-calon tetangga&#8217; sampeyan. Jangan sampai sampeyan tertipu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiyar.com/teliti-sebelum-membeli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
