Antara Dapur Kita dan Dapur Nabi

Written by abu hanah on 13 November 2009 – 2:27 am -

food2Berapa banyak piring dan mangkuk terhidang di meja makan kita hari ini? Rasa-rasanya pada zaman ini, minimal sebakul nasi, semangkuk sayur dan sepiring lauk hampir dapat dipastikan selalu tersedia di rumah-rumah keluarga muslim. Belum lagi dengan senampan buah hidangan pencuci mulut. Bahkan pada saat-saat tertentu, makanan dan minuman tersedia melimpah ruah. Dan tak jarang, karena terlalu bersemangatnya kita dalam menikmati makanan hingga sakit perut karena kekenyangan. Padahal dikatakan bahwa kekenyangan menjadi penyebab kebodohan, suka tidur, hilangnya kecerdasan dan menimbulkan ketidaktaatan.

Walaupun telah diberikan nikmat dengan makanan berlimpah, seringkali masih terucap dari lisan bahwa rizki yang diperoleh masih kurang, keluh kesah tentang kesukaran dalam penghidupan, dan ungkapan-ungkapan lain penanda jiwa yang kurang bersyukur. Patutkah kita berlaku seperti itu?

Barangkali kita perlu sejenak menengok apa yang terjadi di dapur keluarga Rasulullah.

Bunda ‘Aisyah berkata: “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang dari roti gandum (sya’ir) dalam waktu dua hari berturut, turut sehingga beliau meninggal dunia.” Dan dalam sebuah riwayat yang lain Bunda ‘Aisyah berkata: “Sejak menetap di Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah kenyang oleh makanan yang terbuat dari gandum (burr) dalam waktu tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal dunia.” (Kedua hadist tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Dan dalam sebuah hadist lain dari ‘Urwah (beliau adalah putra Zubair dan Asma’), dari ‘Aisyah, bahwasanya beliau berkata: “Wahai keponakanku, demi Allah, kami pernah melihat hilal (bulan baru), lalu hilal dan kemudian hilal, tiga kali dalam dua bulan, sedangkan di rumah-rumah Rasulullah tidak dinyalakan api sama sekali” . Kutanyakan: “Wahai bibiku, jika demikian maka makanan apa yang dapat menghidupkan kalian?” Dia menjawab: “Dua makanan hitam: kurma dan air, hanya saja waktu itu Rasulullah mempunyai tetangga Anshar, mereka mempunyai domba atau unta perahan. Mereka sering mengantarkan air susunya untuk Rasulullah, sehingga kamipun diberinya minuman dengannya.” (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Inilah Rasulullah, manusia yang paling mulia dari seluruh manusia, hidup dengan sangat sederhana. Beliau dan keluarga berpaling dari (kesenangan) terhadap dunia dan zuhud terhadapnya. Alangkah patutnya kita merasa malu, jika kita memang masih dikaruniai rasa itu.


Tags: , , ,
Posted in Selingan | 2 Comments »

2 Comments to “Antara Dapur Kita dan Dapur Nabi”

  1. Alipha's Weblog Says:

    Sudah selayaknya kita senantiasa bersyukur atas apa yang ada pada diri kita

  2. klonthang Says:

    “Robbku menawarkan kepadaku untuk menjadikan lembah Mekah seluruhnya emas. Aku menjawab, “Jangan ya Allah, aku ingin satu hari kenyang dan satu hari lapar. Apabila aku lapar aku akan memohon dan ingat kepada-Mu dan bila kenyang aku akan bertahmid dan bersyukur kepada-Mu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Leave a Comment

RSS