Di Penghujung Bulan
Written by abu hanah on 22 November 2009 – 6:28 am -Ketika bulan hampir berganti, banyak di antara kita yang bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan, merasakan betapa sempitnya penghidupan di penghujung bulan. Uang yang masih tersisa harus diirit sedemikan rupa agar bisa cukup sampai waktu gajian di awal bulan. Tak terkecuali urusan dapur juga terkena imbasnya. Di hari-hari terakhir, asap tak lagi membumbung keluar dari dapur. Gundah, resah, gelisah. Demikianlah rasa hati demi memikirkan kebutuhan anak istri di saat rezeki belum menyapa.
Di saat-saat demikian dengan menengok kehidupan Rasulullah dan keluarganya akan bisa menjadi obat pelipur hati. Siapa yang tidak kenal dengan beliau. Beliaulah manusia yang di hari kiamat kelak akan diberikan Maqaman Mahmudan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi lainnya. Pemilik syafaat terbesar yang diajukan agar Allah segera mengadili manusia yang telah berdiri menunggu sekian lama di padang Mashsyar. Manusia pertama yang memasuki surga. Dengan segala kemuliaan yang demikian ternyata kehidupan beliau di dunia sangat sederhana.
Inilah beberapa kutipan hadist yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya Riyadush Shalihin yang patut kita renungkan bersama.
- Hadist nomor 493
Dari Abu Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah bahwasanya dia pernah berjalan melewati suatu kaum yang di hadapan mereka terdapat daging kambing bakar, lalu mereka memanggilnya tetapi dia menolak ikut makan seraya mengatakan: “ Rasulullah meninggal dunia sementara beliau tidak pernah kenyang makan roti gandum (sya’iir).” (Diriwayatkan oleh Bukhari IX/549).
- Hadist nomor 494
Dari Anas, beliau berkata: “ Nabi belum pernah makan di atas meja makan (khiwaan) sampai meninggal dunia. Dan beliau juga belum pernah makan roti yang besar dan yang lembut sampai beliau meninggal dunia.” Dan dalam riwayat yang lain disebutkan: “ Dan beliau belum pernah sama sekali melihat kambing guling (syaatan samiithan) secara langsung. (Diriwayatkan oleh Bukhari IX/530).
Syaatan samiithan yakni kambing muda yang telah dihilangkan bulu-bulunya dengan air panas, lalu dipanggang.
- Hadist nomor 495
Dari Nu’man bin Basyiir, beliau berkata: “ Aku pernah menyaksikan Nabi kalian, di mana beliau tidak mendapatkan makanan meskipun hanya kurma terburuk yang dapat mengisi perutnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim 2978)
- Hadist nomor 496
Dari Sahl bin Sa’ad, beliau berkata: “ Rasulullah tidak pernah melihat roti yang terbuat dari tepung yang putih dan halus sejak beliau diutus oleh Allah sampai beliau diwafatkan oleh-Nya.” Lalu ada yang mengatakan kepada Sahl: “ Apakah pada masa Rasulullah tidak ada ayakan?” Sahl menjawab: “ Rasulullah tidak pernah melihat ayakan sejak beliau diutus oleh Allah sampai beliau diwafatkan oleh-Nya.” Lebih lanjut ditanyakan kepada Sahl: “ Bagaimana kalian memakan gandum tanpa diayak terlebih dahulu?” Dia menjawab: “ Kami menumbuk dan meniup-niupnya sehingga terbanglah yang terbang dan sisanya kami basahi (masak).” (Diriwayatkan oleh Bukhari IX/548)
Semoga segala gundah hati di saat ini bergati dengan kegembiraan dan kerinduan akan kampung akhirat.
Tags: akhir bulan, kesederhanaan nabi, manajemen dapur
Posted in Selingan | No Comments »
