<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rembug Pasutri: Menggapai Keluarga Samara &#187; kado malam pertama</title>
	<atom:link href="http://abiyar.com/tag/kado-malam-pertama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abiyar.com</link>
	<description>Rembug Pasutri: Menggapai Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Feb 2010 10:27:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kado Malam Pertama</title>
		<link>http://abiyar.com/kado-malam-pertama/</link>
		<comments>http://abiyar.com/kado-malam-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 09:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu hanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[asy sya'bi]]></category>
		<category><![CDATA[istri cantik]]></category>
		<category><![CDATA[kado malam pertama]]></category>
		<category><![CDATA[syuraih al qadhi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abiyar.wordpress.com/2007/09/06/kado-malam-pertama/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kekasihku tercinta.
Duhai, adinda. Bukanlah aku seorang ahli ilmu atau orang berharta. Tak mampu kutuliskan untukmu walau hanya sebuah kitab yang kecil saja.  Atau sebuah kunci kotak berisi harta dan perhiasan. Hanya bingkisan kisah ini yang dapat kuberikan padamu sebagai hadiah di malam pertama. Perhatikanlah, akan banyak manfaat yang bisa dipetik sebagai pelajaran bagi kita.
Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Untuk kekasihku tercinta.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-77" title="hadiah" src="http://abiyar.com/wp-content/uploads/2007/09/hadiah-150x150.jpg" alt="hadiah" width="122" height="102" />Duhai, adinda. Bukanlah aku seorang ahli ilmu atau orang berharta. Tak mampu kutuliskan untukmu walau hanya sebuah kitab yang kecil saja.  Atau sebuah kunci kotak berisi harta dan perhiasan. Hanya bingkisan kisah ini yang dapat kuberikan padamu sebagai hadiah di malam pertama. Perhatikanlah, akan banyak manfaat yang bisa dipetik sebagai pelajaran bagi kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan demikianlah yang telah diceritakan oleh Syuraih al Qadhi kepada Asy Sya’bi. “Selama 20 tahun aku tidak melihat sesuatu yang membuatku marah terhadap istriku. Sejak malam pertama aku bersua dengan istriku, aku melihat padanya kecantikan yang mengoda dan kecantikan yang langka. Aku berkata dalam hatiku: Aku akan bersuci dan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur kepada Allah. Ketika aku salam dan mendapati istriku menunaikan shalat dengan shalatku, dan salam dengan salamku. Maka ketika rumahku telah sepi dari para sahabat dan rekan-rekan, maka aku berdiri kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-17"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Aku ulurkan tanganku kepadanya, maka dia berkata, ‘Perlahan wahai Abu Umayyah (nama kunyah Syuraih al Qadhi, pen), seperti keadaanmu semula. Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Aku sampaikan shalawat dan salam atas Muhammad dan keluarganya. Sesungguhnya aku adalah wanita asing yang tidak mengetahui akhlakmu, maka jelaskanlah kepadaku apa yang engkau sukai sehingga aku akan melakukannya dan apa yang tidak engkau sukai sehingga aku meninggalkannya.’</p>
<p style="text-align:justify;">Ia melanjutkan, ’Sesungguhnya pada kaummu terdapat wanita yang dapat engkau nikahi, dan pada kaumku terdapat pria yang sekufu denganku. Tetapi jika Allah menentukan suatu perkara, maka perkara itu terjadi. Engkau telah berkuasa, maka lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, yaitu menahan dengan yang ma’ruf atau mencerai dengan cara yang baik. Aku ucapkan sampai di sini saja, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu….!’</p>
<p style="text-align:justify;">Demi Allah wahai Asy Sya’bi, ia membuatku membutuhkan khutbah di tempat tersebut. Aku katakan, ‘Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Aku sampaikan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sesungguhnya engkau mengatakan sesuatu pembicaraan yang apabila engkau teguh di atasnya, maka itu akan menjadi keberuntunganmu. Dan jika engkau meninggalkannya, maka itu menjadi hujjah (keburukan) atasmu. Aku menyukai demikian dan demikian, dan aku tidak menyukai demikian dan demikian. Apa yang engkau lihat baik maka sebarkanlah, dan apa yang engkau lihat buruk maka tutupilah!’</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mengatakan, ‘Bagaimana kesukaanmu dalam mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak ingin mertuaku membuatku penat.’ Ia bertanya, ‘Siapa yang engkau sukai dari para tetanggamu untuk masuk ke rumahmu sehingga aku mengizinkannya, dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga aku tidak mengizinkannya masuk?’ Aku mengatakan, ‘Bani fulan adalah kaum yang shalih dan Bani fulan adalah kaum yang buruk.’</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian aku bermalam bersamanya pada malam yang sangat nikmat (baik). Aku hidup bersamanya selama setahun dan aku tidak melihat melainkan sesuatu yang aku sukai. Ketika awal tahun aku datang dari majelis Qadha’ (peradilan), tiba-tiba ada seorang wanita di dalam rumah. Aku bertanya, ‘Siapa dia?’ Mereka menjawab, ‘Mertuamu (yakni ibu dari istrimu).’ Ia menoleh kepadaku dan bertanya kepadaku, ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’ Aku menjawab, ‘Sebaik-baik istri.’ Ia mengatakan, ‘Wahai Abu Umayyah, wanita itu tidak akan menjadi lebih buruk keadaannya darinya dalam dua keadaan: jika melahirkan anak atau dimuliakan di sisi suaminya. Demi Allah, laki-laki tidak akan menemui di rumahnya yang lebih buruk daripada wanita yang manja. Oleh karena itu, hukumklah dengan hukuman yang engkau suka, dan didiklah dengan didikan yang engkau suka.’</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku tinggal bersamanya selama 20 tahun dan aku tidak pernah menghukumnya mengenai sesuatu pun kecuali sekali, dan aku merasa telah menzhaliminya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dikutip dari: Panduan Lengkap Nikah (dari A sampai Z), Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abiyar.com/kado-malam-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
